IPO (Initial Public Offering) dan Aspek Perpajakannya

Pengertian IPO

IPO yang juga dikenal dengan istilah Go-Public adalah kegiatan penawaran saham atau efek yang dilakukan oleh Emiten (Perusahaan yang akan Go-Public) untuk menjual saham atau efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diator oleh UU Pasar Modal dan Peraturan Pelaksanaannya.

Tujuan Go-Public

Aspek Finansial : untuk refinancing atau restrukturasi permodalan, yaitu meningkatkan permodalan, memperbaiki struktur keuangan perusahaan (Debt Equity Ratio),  mengurangi Cost Of Fund, dan merupakan sumber pendanaan Jangka Panjang.

Aspek Non Finansial : lebih meningkatkan kepercayaan masyarakat, meningkatkan profesionalisme, dalam rangka pemasaran perusahaan melalui ekspansi bisnis atau perluasan usaha, investasi baru dan mengambil alih usaha lain

Pihak-Pihak Yang Terkait Dengan Proses IPO

Perusahaan Efek : Penjamin Pelaksana Emisi (Managing Underwritter), Penjamin Emisi (Underwriter), Agen Penjual (Selling Agent), Lembaga Profesi Pasar Modal : Akuntan Publik, Konsultan Hukum, Notaris, penilai, Lembaga Penunjang Pasar Modal : Kustodian, Biro Administasi Efek, Lain-Lain: Percetakan (Prospektus), Advertising Agency, Public Relation.

Proses Go-Public

Perusahaan dan  penjamin Emisi mengajukan Pernyataan Pendaftaran Ke Bapepam, oleh Bapepam dan BEI akan dikaji Pernyataan Pendaftaran (“PP”) dan persyaratan listingnya, setelah mendapat “Pernyataan Pendaftaran Efektif”, maka dilanjutkan penawaran Umum dan Penyelesaian (alokasi penjatahan, Pengembalian Dana), listing di Bursa

Pola Go-Public

Pola Go-Public dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara yaitu pelepasan saham (divestasi) dan melakukan penawaran saham baru (Right Issue). Dalam proses divestasi maka tidak ada perubahan Neraca setelah IPO pada struktur modal, adanya divestasi mengakibatkan masuknya penerimaan hasil penjualan saham bagi pemegang saham perusahaan . Dalam pola yang kedua yaitu dalam rangka ekspansi atau refinancing melalui penawaran umum saham baru , dapat kita lihat dalam contoh ilustrasi berikut ini : PT ABC melakukan penawaran umum 50% saham baru, dengan harga penawaran Rp.1000 per lembar saham. Maka dalam neraca sebelum dan sesudah IPO adalah sebagai berikut:

Sebelum IPO

Neraca PT ABC Per 31 Desember  20xx

Aktiva Pasiva
Aktiva 13.500.000.000 Hutang 10.000.000.000
Modal Disetor penuh nominal Rp.500 sejumlah 5 Juta lembar 2.500.000.000 

 

Laba (Rugi) ditahan 1.000.000.000
13.500.000.000 Jumlah 13.500.000.000

Sesudah IPO

Neraca PT ABC Per xxxx

Aktiva Pasiva
Aktiva 13.500.000.000 Hutang 10.000.000.000
Dana IPO 2.500.000.000 Modal Disetor penuh nominal Rp.500 sejumlah 7,5  Juta lembar 3.750.000.000 

 

Agio Saham 1.250.000.000
Laba (Rugi) ditahan 1.000.000.000
16.000.000.000 Jumlah 16.000.000.000

Aspek Perpajakan

Berdasarkan  Undang-Undang Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan undang-Undang nomor 36 Tahun 2008 , Peraturan  Pemerintah Nomor 41 Tahun 1994, Peraturan Menteri keuangan nomor 244/PMK.03/2008 dan peraturan pelaksanaan lainnya, maka aspek perpajakannya adalah sebagai berikut :

Atas Transaksi Saham

  1. Pajak penghasilan dengan tarif 0,1 % Final dari jumlah bruto nilai transaksi penjualan saham dipotong Penyelenggara bursa  melalui perantara pedagang efek
  2. Pemilik saham pendiri dikenakan tambahan PPh sebesar 0,5 % dari nilai saham perusahaan pada saat penutupan bursa diakhir 1996
  3. Pengenaan tambahan Pajak penghasilan diperhitungkan dari nilai seluruh saham pendiri yang dimiliki pada tanggal 29 Mei 1997 atau pada saat IPO, dalam hal IPO dilakukan pada atau setelah tanggal 29 Mei 1997
  4. Yang dimaksud dengan “ pendiri “ adalah orang pribadi atau badan yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham PT atau tercantum dalam anggaran dasar persero sebelum pernyataan pendaftaran dilakukan kepada Bapepam dalam rangka IPO.
  5. Termasuk saham pendiri adalah: Saham yang diperoleh pendiri yang berasal dari kapitalisasi agio yang dikeluarkan setelah IPO, Saham yang berasal dari pemecahan saham pendiri.
  6. Tidak Termasuk saham pendiri adalah: Saham yang diperoleh pendiri yang berasal dari pembagian deviden dalam bentuk saham, Saham yang diperoleh pendiri setelah penawaran umum perdana (IPO) yang berasal dari hak pemesanan  terlebih dahulu, Saham yang diperoleh pendiri perusahaan reksadana
  7. Bagi pemegang saham yang telah melunasi kewajiban PPh atas saham pendiri, saham bonus yang diterima kemudian berasal dari kapitalisasi agio setelah IPO perusahaan  bersangkutan, tidak lagi termasuk dalam pengertian saham  pendiri. Jadi sejak sudah dilunasi PPh saham pendiri, maka sudah tidak ada lagi saham pendiri yang harus dilunasi lagi tambahan pph nya 0,5 %.
  8. Bagi saham pendiri yang tidak/ belum melunasi kewajiban tambahan PPh 0,5 % atas saham pendirinya, saham bonus yang diterimanya adalah termasuk dalam pengertian saham pendiri
  9. Wajib Pajak pemilik saham pendiri yang tidak memilih ketentuan sebagaimana dimaksud  diatas, atas penghasilan berupa capital gain dari transaksi penjualan saham pendiri dikenakan Pajak Penghasilan sesuai dengan tarif umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 Undang-undang PPh.

Atas Penghasilan yang diterima oleh pihak-pihak terkait dengan proses IPO

  1. Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh  Jasa Tenaga Ahli : Akuntan Publik, Konsultan Hukum, Notaris, penilai,  dipotong PPh pasal 23 sebesar 2% dari jumlah bruto tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai oleh Emiten.
  2. Atas Penghasilan yang diterima atau diperoleh Perusahaan Efek : Penjamin Pelaksana Emisi (Managing Underwritter), Penjamin Emisi (Underwriter), Agen Penjual (Selling Agent) dipotong PPh pasal 23 sebesar 2% dari jumlah bruto tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai oleh Emiten.
  3. Atas Penghasilan yang diterima atau diperoleh KSEI, KPEI dalam rangka  Jasa di bidang perdagangan surat-surat berharga , dikecualikan dari pemotongan PPh pasal 23.
About these ads

4 Komentar

Filed under Perpajakan

4 responses to “IPO (Initial Public Offering) dan Aspek Perpajakannya

  1. ali

    terima kasih. tulisan ini sangat membantu sekali.

  2. wahyu wibowo

    way to go…very helpfull

  3. wieeya

    tulisan ini sangat menambah pengetahuan saya,,thx b4
    tapi ada yg saya ingin saya tanyakan terkait ttg PPh 23..
    pd tulisan tsbt dikatakan bahwa atas Atas Penghasilan yang diterima atau diperoleh Perusahaan Efek tersebut dipotong PPh 23,,dalam hal ini sisapa yang melakukan pemotongan atas PPh 23 tsbt? apakah pembeli saham?

    trimaksh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s